Kartika Rahmadana dan Ruang Bertumbuh Bernama GEMAR
By Admin

Kartika Rahmadana, Ketua GEMAR Indonesia
Anak muda itu akhirnya mulai berbicara. Terbata-bata mula-mula. Lalu perlahan suaranya menjadi lebih jelas.
Di banyak organisasi, orang seperti itu biasanya disuruh diam dulu sampai siap. Tetapi di GEMAR Indonesia, anak-anak yang belum siap justru sering diberi kesempatan pertama.
Mungkin di situlah cara Kartika memimpin.
Ia tidak memimpin seperti orang yang gemar berdiri paling depan sambil menunjuk-nunjuk masa depan dengan telunjuk penuh keyakinan. Ia lebih mirip seseorang yang berjalan pelan di belakang rombongan, memastikan tak ada yang tertinggal. Kadang hanya dengan mendengar. Kadang cukup dengan memberi ruang.
Generasi Emas Berkarya—GEMAR Indonesia—memang bukan komunitas yang lahir dengan gegap gempita. Diinisiasi oleh Denny Widya, CBC selaku Founder GEMAR Indonesia, komunitas itu mula-mula bergerak seperti anak muda pada umumnya: penuh semangat, sedikit nekat, dan kadang belum tahu apakah langkahnya benar atau tidak. Mereka membuat forum diskusi, kegiatan sosial, kelas literasi, dan acara kepemudaan dengan peralatan yang sering kali seadanya.
Namun organisasi anak muda biasanya cepat lelah. Banyak yang lahir dengan slogan besar lalu mati pelan-pelan karena kehabisan tenaga, terlalu banyak ego, atau terlalu sibuk membuat kesan hebat.
GEMAR rupanya mencoba jalan lain.
Di tangan Kartika Rahmadana, komunitas ini bergerak lebih seperti rumah belajar. Orang boleh datang dengan keraguan, dengan kemampuan yang belum matang, bahkan dengan rasa minder yang masih menempel di wajah. Tidak harus langsung pintar. Tidak harus langsung bisa.
Yang penting mau tumbuh.
Barangkali karena itu, banyak anggota GEMAR tampak memiliki hubungan yang aneh dengan rasa percaya diri: mereka menemukannya perlahan, bukan dari tepuk tangan, tetapi dari diberi tanggung jawab kecil yang terus bertambah.
Ada mahasiswa yang awalnya hanya membantu dokumentasi, lalu diminta mengelola forum. Ada anak muda yang dulu takut menulis, kemudian namanya tercetak dalam buku Ombak Inspirasi atau Menembus Waktu. Ada pula yang pertama kali datang hanya sebagai peserta, lalu beberapa bulan kemudian berdiri memimpin kegiatan sosial.

Kartika tampaknya percaya bahwa anak muda tidak berubah karena ceramah panjang. Mereka berubah ketika seseorang percaya bahwa mereka mampu.
Di tengah hiruk-pikuk pembicaraan tentang Bonus Demografi 2045, banyak orang sibuk menghitung angka-angka: usia produktif, peluang ekonomi, pertumbuhan tenaga kerja. Tetapi di GEMAR, masa depan dibicarakan dengan cara yang lebih sederhana—apakah anak muda hari ini punya tempat untuk bertumbuh atau tidak.
Karena itulah GEMAR tidak hanya membuat acara. Mereka membangun kebiasaan. Kebiasaan membaca. Kebiasaan berdiskusi. Kebiasaan mendengar pendapat orang lain tanpa tergesa mengejek. Sesuatu yang makin jarang ditemukan di zaman ketika semua orang ingin cepat terlihat hebat.
Belakangan istilah coaching leadership memang sesekali muncul dalam percakapan mereka. Nama John C. Maxwell kadang disebut. Tetapi di tangan Kartika, kepemimpinan tidak tampak seperti teori seminar hotel. Ia tampak dalam hal-hal kecil yang nyaris tidak diperhatikan: membalas pesan anggota tengah malam, mendengarkan proposal yang masih berantakan, atau tetap datang ke forum kecil yang pesertanya bahkan tidak sampai puluhan orang.
Barangkali kepemimpinan memang sering bekerja diam-diam.
Suatu siang, setelah sebuah kegiatan selesai, beberapa anggota GEMAR masih duduk bergerombol sambil membicarakan rencana program berikutnya. Gelas plastik berisi es teh tinggal separuh. Spanduk acara belum dicopot. Di tengah obrolan itu, Kartika hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum kecil melihat mereka saling berdebat menentukan ide.
Di wajah anak-anak muda itu tampak sesuatu yang sederhana tetapi penting: mereka merasa suara mereka berarti.
Dan mungkin, bagi sebuah generasi, perasaan seperti itulah yang paling dibutuhkan untuk mulai percaya pada masa depan. (*)